Menu Atas

Iklan

iklan

Pelajaran Komunikasi yang Bisa Dipetik dari Camat Cibungbulang

Senin, 26 Oktober 2020 | Senin, Oktober 26, 2020 WIB Last Updated 2020-10-27T03:26:18Z

Pelajaran komunikasi yang utama dari Camat Yudi adalah bagaimana beliau mengelola krisis yang dihadapinya, sekaligus strategi teknis bagaimana keluar dari masalahnya.

Mediahallo.com
- Apa yang akan dilakukan, jika Anda adalah seorang pejabat pemerintahan di Bogor, kemudian mengalami masalah komunikasi yang buruk sehingga harus berhadap-hadapan dengan wartawan?


Pasti tidak gampang, apalagi kasus yang dialaminya seperti yang menimpa pada Camat Cibungbulang Yudi Nurzaman. Camat Yudi bukanlah pejabat yang pertama yang berhadapan dengan wartawan, karena "keceplosan" merendahkan profesi wartawan.


Oke lah peristiwa sudah lewat, meskipun luka wartawan mungkin belum sepenuhnya pulih dan urusan dengan wartawan pun belum 100 persen tuntas


Pertanyaannya, adakah pelajaran komunikasi yang bisa dipetik oleh pejabat lainnya dari peristiwa komunikasi Camat Yudi ini?


Menurut saya, pelajaran komunikasi yang utama dari Camat Yudi adalah bagaimana cara beliau mengelola krisis yang dihadapinya, sekaligus strategi teknis keluar dari krisis yang membelitnya.


Memang banyak jalan menuju Roma, dalam teori komunikasi yang diciptakan oleh Prof William Benoit -- penemu Image Restoration Theory pun setidaknya ada 5 strategi untuk memulihkan citra dari krisis yang dihadapi. Saya hanya bahas langkah komunikasi Camat Yudi versi Teori Benoit.


Camat Yudi Minta Maaf


Nah, disadari atau tidak oleh beliau, sebenarnya Camat Yudi telah menggunakan strategi pemulihan citra yang ditawarkan dalam Teori Pemulihan Citra yang poin terakhir, yaitu Mortification Strategy.


Dalam beberapa kali kesempatan Camat Yudi sudah menyampaikan pernyataan maaf secara langsung kepada wartawan. Bahkan di hari saat "keceplosan" pun, saat dikonfirmasi wartawan dia langsung meminta maaf.


Esoknya, saat ditemui pengurus salah satu organisasi kewartawanan Bogor Raya di kantornya, Camat Yudi juga konsisten mengungkapkan hal yang sama.


Bahkan -- mungkin ini yang paling afdol -- dengan didampingi Sekda Kabupaten Bogor Burhanudin, kepada para wartawan yang biasa meliput kegiatan Pemkab, Camat Yudi menyampaikan maaf sambil mengungkapkan penyesalannya yang mendalam.


Strategi “penyiksaan diri” dalam teori Benoit, seperti yang dilakukan oleh Camat Yudi ini juga pernah menjadi tema utama yang menarik dari tulisan pakar komunikasi yang lainnya, yaitu Burke.


Strategi ini dipandang sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan secara terang benderang meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan.


Dampak Camat Yudi Minta Maaf


Meskipun (mungkin) masih ada wartawan yang kecewa atau yang kesal atau persoalannya belum tuntas, dalam pandangan saya, strategi restorasi citra Mortification yang dilakukan Camat Yudi ini merupakan pilihan yang terbaik.


Merasa bersalah, kemudian meminta maaf adalah merupakan perbuatan yang terpuji, karena seseorang yang berani meminta maaf sejatinya telah menunjukkan keberaniannya dalam berkomitmen untuk bersegera memperbaiki diri.


Kemurian mengakui bersalah, dan meminta maaf dari orang-orang yang telah dirugikan atau tersinggung adalah sikap yang baik.


“Jika kita percaya permintaan maaf itu tulus, kita akan memaafkan suatu kesalahan” tulis Prof. William Benoit.


Meskipun hubungan dengan wartawan masih berproses, namun dari hasil monitoring media membuktikan bahwa kegaduhan di masyarakat sudah berkurang jauh. Demikian juga di ruang medsos dan ruang publik.


Asalkan kesalahan yang sama jangan diulang, menurut saya Strategi Mortification ini terbukti sangat efektif sebagai upaya stategis untuk meredam krisis, memulihkan citra, atau reputation recovery, atau image restoration. (*)


Oleh: Budi Purnomo S.IKom, M.IKom, Pemimpin Redaksi Hallobogor.com -- Hallo Media Network. 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pelajaran Komunikasi yang Bisa Dipetik dari Camat Cibungbulang

Iklan

iklan